Anak Demam? Ini Saran dari Direktur RSCM

Anak Demam
Anak Demam

Demam adalah salah satu gejala khas yang dialami oleh anak yang mengidap Gangguan Ginjal Akut Atipikal Progresif (GgGAPA). Bila terjadi demam pada anak, sebagian besar orang tua terbiasa untuk langsung memberikan obat atau antibiotik pada anak dokter atau tenaga kesehatan lainnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama (Dirut) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Lies Dina Liastuti mengingatkan kepada orang tua untuk tidak langsung memberikan obat bila anak mengalami sakit ringan, salah satunya demam.

“Kalau ada anak demam, jangan langsung kasih obat. Pemberian obat harus hati-hati, harus ke dokter untuk diberikan apa yang diperlukan dan tidak berbahaya,” tegas Dirut RSCM, saat melakukan konferensi pers mengenai perkembangan kasus GgGAPA di RSCM.

READ  Manfaat Sabun Antiseptik, Efektifkah Basmi Virus dan Bakteri?

Jika anak mengalami demam, dr. Lies menyebutkan bahwa orang tua bisa memberikan kompres hangat yang lebih aman. Selain itu, penting juga untuk memastikan bahwa cairan tubuh anak tercukupi dengan baik.

Hal serupa juga ditegaskan oleh dr. Piprim Yanuarso, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Dalam kesempatan yang berbeda, dr. Piprim menyebutkan bahwa demam adalah mekanisme bentuk pertahanan tubuh.

“Jangan buru-buru memberikan obat kalau anak mengalami batuk, pilek, dan demam karena itu adalah mekanisme bentuk pertahanan tubuh untuk mengusir virus,” sebut dr. Piprim dalam siaran langsung akun Instagram resmi IDAI (@idai_ig).

READ  Modifikasi Mobil Agar Irit BBM Bisa Pakai Cara Ini, Tapi Ada Efek Lainnya

Terkait fenomena gangguan ginjal pada anak, orang tua diminta untuk segera membawa anak ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat jika ditemukan gejala penurunan volume atau tidak ada buang air kecil sama sekali. Selain volume air kencing, orang tua juga harus mewaspadai gagal ginjal akut bila anak mengalami gejala demam, infeksi saluran pernafasan akut (batuk dan pilek), atau gejala infeksi saluran cerna (diare dan muntah).

Kasus gagal ginjal akut misterius yang menyerang anak-anak usia 6 bulan hingga 18 tahun mengalami peningkatan signifikan dalam dua bulan terakhir, terutama pada Agustus 2022. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menerima 206 laporan kasus dengan 99 laporan kematian hingga. Laporan tersebut dihimpun dari 20 provinsi di Indonesia.

READ  PDIP DKI Dorong Heru Budi Isi Kekosongan Posisi Deputi Gubernur

Sementara itu, di RSCM, yang merupakan rumah sakit rujukan nasional untuk ginjal, angka kematian kasus gagal ginjal akut mencapai 63%.