Busi Mobil Rusak Satu, Kenapa Harus Diganti Semuanya?

Busi Mobil Rusak Satu, Kenapa Harus Diganti Semuanya?
Busi Mobil Rusak Satu, Kenapa Harus Diganti Semuanya?

Mobil umum memiliki tiga sampai empat busi, tergantung jumlah silinder. Tidak jarang, busi mengalami keausan pada satu silinder saja. Bila ingin diganti baru, haruskah mengganti semua busi, atau hanya pada satu saja yang bermasalah?

Pertanyaan ini memang kerap dilontarkan. Terlebih bila tujuannya ingin menghemat pengeluaran dengan cara hanya mengganti satu saja yang bermasalah dan membiarkan yang lain. Asumsinya, sisa busi yang ada masih bisa dipakai dan sayang untuk dibuang.

Akan tetapi perlu dipahami dahulu bila ada efek domino dari periode penggantian yang salah seperti ini. Pertama, busi mengalami kerusakan jamak karena terlalu lama tidak diperbarui. Otomatis menyambar koil. Risiko ini yang justru bikin kantong jebol.

READ  Perbedaan Lain Toyota Raize 1.0L Turbo dan 1.2L

Permasalahan pada Koil
“Penyebab utama mobil mogok atau rusak (dari sisi kelistrikan dan busi) pasti koil. Sebenarnya koil itu bisa dideteksi rusak, karena awal dari gejala busi. Busi udah kelamaan enggak diganti, akhirnya bocor dan nyambar ke koil. Baru koil bermasalah. Ketika koil bermasalah baru terasa, budget beli koil besar banget,” ungkap Diko Oktaviano, Technical Support PT NGK Busi Indonesia, saat ditemui Otosia dalam acara coaching clinic kepada awak media di Tangerang Selatan, Sabtu (24/12/2022).

Nah, ketika diketahui satu silinder mengalami mati busi, lalu hanya diganti satu saja, permasalahan lain muncul. Seiring berjalan waktu, masa pakai busi yang masih normal tentu sudah terforsir. Tidak ada yang tahu tinggal berapa persen umur busi itu.

READ  Mobil Kelamaan Nganggur di Rumah, Perlu Cabut Aki atau Enggak?

Kemudian kemampuan yang tidak sama antar silinder berpotensi memicu ketidakseimbangan produksi power. Kalau businya baru, pasti akan beda dibandingkan yang lain. Ini yang bikin performa mobil tidak juga bisa maksimal.

“Padahal sebetulnya itu bisa dicegah. Kebiasaan di kita, ketika satu silinder bermasalah, udah itu doang yang diganti. Karena apa, kita tidak pernah tahu. Nih satu dari empat silinder, kita tidak pernah tahu keausannya sudah 20 persen, 40 persen atau segala macem. Jadinya tidak seimbang,” tutur Diko menambahkan.

Siklus Tidak Normal
Kalau saja ditemukan busi ternyata sering mati, padahal masih baru, asumsi lanjutan berarti bukan titik itu yang bermasalah, melainkan kendala lain contohnya proses kombusi atau perangkat kelistrikan tidak normal. Yang jelas, mesin tidak sedang baik-baik saja.

READ  Carsentro Bogor Resmi Dibuka, Transaksi Mobil Bekas Antara Diler dan Pembeli Jadi Lebih Mudah

“Katakanlah problem busi sering banget mati. Yang perlu dicari, kenapa seperti itu? Bukan businya yang gampang diganti. Karena misal diganti satu silinder doang, tiga silinder yang lain nanti tidak imbang,” ujarnya.

Lebih lanjut, proses yang sama seperti ini akan berlanjut terus-menerus, satu silinder rusak diganti dan seterusnya. Lama-lama tidak akan pernah selesai sedangkan jelas-jelas performa mesin pincang.

“Lama-lama siklus penggantian komponen enggak stabil. Itu lebih enggak enak lagi, dibandingkan serempak. Diganti, habis itu tidak ada problem lagi di kemudian hari,” tutup dia.