Kisah Mengerikan di Balik Nama Kampung Pecah Kulit

Jalan Pangeran Jayakarta merupakan keliru satu jalur tertua di Jakarta. Jalan itu, yang pernah di kenal bersama nama Jacatraweg ini, sekarang jadi keliru satu jalur sibuk di wilayah barat Jakarta.

Banyaknya gedung perkantoran dan pusat perdagangan membawa dampak jalur di wilayah tersebut seolah tak pernah mati. Namun, di balik kesibukan Jacatraweg masa kini, tersimpan sebuah kisah kelam nan tragis.

Tepatnya di dekat Gereja Portugis Sion, tak jauh dari Stasiun Jayakarta, sebelum saat mencapai Stasiun Kota. Di sana, eksekusi hukuman mati untuk seseorang yang di cap sebagai pemberontak oleh pemerintahan Batavia pernah terjadi, yang berarti sadisnya pemerintah kolonial sementara itu.

Tragedi mengerikan itu apalagi jadi legenda turun-temurun di kalangan warga asli Betawi hingga sementara ini.

“Jadi dahulu terdapat seorang pria keturunan Jerman. Dia sering merampok demi menunjang pribumi sementara masa pemerintahan Belanda. Karena di anggap berbahaya. Dia di hukum mati,” ucap Supandi, keliru seorang warga asli Betawi yang tinggal tak jauh dari Jalan Pangeran Jayakarta.

Pria itu adalah Pieter Erberveld, seorang warga blasteran Indo-Jerman yang sementara itu gencar memimpin perlawanan pada pemerintah Batavia. Beberapa catatan histori menyebut kebencian Erberveld pada Belanda sebab ketidakadilan pemerintah Batavia di dalam kasus-kasus tanah di wilayah Pondok Bambu.

READ  Terlewat Lihat Hujan Meteor Perseid Semalam? Cek Link Live Streaming Pengamatan Bintang Ini

Sebagai keliru seorang tuan tanah, Pieter Erberveld jadi di rugikan ketika kolonial mengambil ratusan hektare tanah miliknya, hanya sebab tanah tersebut tidak punya izin dari pejabat berwenang.

Dalam perlawanannya, Erberveld mendapat banyak simpati dan pertolongan dari warga pribumi yang menentang eksistensi Belanda di Batavia. Akibat perlawanannya, Pieter Erberveld mendapat hukuman tambahan dari pemerintah kota. Ia di kenakan denda berwujud 3300 kuncir padi yang mesti di bayarkan kepada pemerintah.

Kebencian yang tambah menjadi-jadi ini membawa dampak interaksi Pieter bersama warga Belanda di Batavia merenggang. Kendati demikian, sikap simpati justru di tunjukkan warga pribumi.

Warga sementara itu sangat menunjang perlawanan yang di kerjakan Erberveld. Apalagi sehabis ia berhasil menjalin interaksi bersama beberapa ningrat di Kesultanan Banten.

Kabar interaksi Erberveld bersama Kesultanan Banten membawa dampak pemerintah Belanda gerah. Maklum saja, sementara itu Kesultanan Banten merupakan ancaman bagi eksistensi Belanda di Batavia.

Belanda kemudian menangkap Erberveld bersama puluhan pengikutnya. Sejarawan Betawi Ali Shahab menyebutkan, tuduhan pemerintah kepada Erberveld tak tanggung-tanggung, hendak berbuat makar pada Kompeni pada malam perubahan tahun, 1 Januari 1722. Mereka terhitung di tuduh akan membunuh semua orang Belanda di Batavia sementara pesta perubahan tahun.

READ  Bidik Tiket Terakhir Olimpiade di Play-off Lawan Guinea, STY Kembali Singgung Wasit Piala Asia U-23

Hukuman Sadis Menanti

Erberveld dan para pengikutnya di tangkap tiga hari sebelum saat rancangan makar di dalam suatu pertemuan di rumahnya, yang berdekatan bersama daerah eksekusi. Ia di khianati keliru seorang budaknya yang melapor ke VOC.

Kurang lebih empat bulan Pieter di penjara. Sebelum selanjutnya ia dan kelompoknya di jatuhi hukuman mati pada 22 April 1722 atas perintah Collage van Heemradeen Schepenen (Dewan Pejabat Tinggi Negara).

Berbeda bersama hukuman mati yang biasanya di kerjakan pemerintah Batavia bersama memancung korban atau menggantungnya di depan Stadhuis, hukuman mati bagi Pieter Erberveld di kerjakan di luar tembok Batavia sebelah selatan. Tepatnya di daerah yang sekarang bernama Kampung Pecah Kulit.

Dalam bukunya, Betawi, Queen Of East, Alwi Shahab mengatakan, pelaksanaan hukuman mati itu di deskripsikan sangat sadis, di kerjakan bersama menarik ke dua tangan dan kaki, masing-masing di ikat pada seekor kuda.

READ  Pedagang Pasar Tanah Abang Di Minta Jangan Pasrah Kepada Nasib

“Tubuh mereka semua di cincang dan jantungnya di copot. Lalu badan mereka di tarik bersama empat ekor kuda yang berlari secara berlawanan ke empat penjuru, hingga pecah-pecah jadi empat bagian,” tulis Alwi Shihab.

Kepala Pieter di penggal dan di tancapkan di sebuah lembing. Kemudian oleh Belanda di jadikan monumen yang di pancangkan di depan kediamannya.

“Monumen itu di maksud sebagai peringatan bagi semua pihak, bahwa mereka yang berani melawan Belanda akan mengalami nasib sama,” ucap pria yang biasa di sapa Abah Alwi itu.

Saat kedatangan Jepang pada 1942, tugu itu di hancurkan, tetapi prasastinya dapat di selamatkan. Replikanya kemudian di dirikan kembali. Sejak 1985, monumen itu di pindahkan ke Museum Prasasti Jakarta. Sebab, daerah tugu itu berdiri di jadikan ruang pamer mobil.

Lama sehabis tragedi berdarah itu terjadi, daerah wilayah eksekusi kemudian di kenal bersama nama Kampung Pecah Kulit. Konon nama pecah kulit di sita dari pembunuhan sadis Erberverld dan para pengikutnya, yang tubuhnya terpecah-pecah sebab eksekusi pemerintah Belanda.