Beranda Uncategorized Upacara Adat Aceh yang Dilestarikan Dari Meugang Hingga Meuleumak

Upacara Adat Aceh yang Dilestarikan Dari Meugang Hingga Meuleumak

41
0

Upacara rutinitas Aceh – Aceh adalah tempat yang berada di provinsi paling barat berasal dari kepulauan Nusantara. Aceh juga di huni oleh beberapa etnis penduduk yang tentu saja mempunyai dampak dalam kekayaan budaya tempat Aceh terhadap umumnya. Kebudayaan penduduk Aceh, sendiri udah banyak di warnai dengan nuansa agama Islam. sebagai agama yang mempunyai peran banyak dalam sejarah Aceh.

Akan tetapi, warna budaya serta upacara rutinitas Aceh dan seluruh tradisinya. justru makin tingkatkan keunikannya sendiri dan lumayan menarik untuk diulas. Dari sekian banyak tipe kesenian maupun kebudayaan, upacara rutinitas Aceh beserta ritual dan tradisinya adalah salah satu faktor yang benar-benar kental dalam kehidupan bermasyarakat di Aceh.

Dalam artikel ini, di sediakan ragam upacara rutinitas Aceh yang menarik untuk Grameds ketahui. Simak baik-baik ya!

Ragam Upacara Adat Aceh Peusijuek

Upacara rutinitas Aceh yang pertama adalah upacara Peusijuek yang hingga kini masih berlangsung dan di jalankan oleh penduduk Aceh. Tradisi satu ini lumayan mirip dengan rutinitas Tepung Mawar dalam kebudayaan penduduk Melayu.

Upacara rutinitas Peusijuek biasanya di jalankan di hampir tiap tiap kegiatan rutinitas yang ada dalam kehidupan penduduk Aceh. terhadap kalangan penduduk di pedesaan, Peusijuek adalah upacara yang benar-benar biasa di jalankan untuk hal-hal kecil. layaknya di kala belanja sebuah kendaraan baru atau di kala menaburkan benih di sawah.

Akan tetapi, bagi penduduk perkotaan di Aceh yang mempunyai jenis hidup yang lebih modern, rutinitas Peusijuek hanya di jalankan terhadap kegiatan rutinitas saja, contohnya layaknya dalam proses rutinitas perkawinan.

READ  Terlewat Lihat Hujan Meteor Perseid Semalam? Cek Link Live Streaming Pengamatan Bintang Ini

Dalam pelaksanaannya, proses upacara rutinitas Peusijuek ini di pimpin oleh salah seorang tokoh agama atau tokoh rutinitas yang di tuakan atau di hormati oleh penduduk setempat. Bagi laki-laki, biasanya upacara rutinitas ini di pimpin oleh seorang Teuku. sedakan oleh kaum perempuan di kenal dengan sebutan Ummi, sebagai tokoh yang di tuakan dan di hormati oleh masyarakat.

Hal ini gara-gara proses berasal dari upacara Peusijuek di isi dengan doa keselamatan serta kesejahteraan. cocok dengan ajaran agama Islam sebagai agama yang mayoritas di anut oleh penduduk Aceh. oleh gara-gara itu, pemimpin upacara Peusijuek di utamakan berasal dari golongan yang lumayan menyadari serta menguasai hukum agama Islam.

Upacara Peusijuek di jalankan oleh penduduk Aceh sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan maupun keberhasilan di kala mereka sukses meraih suatu hal baik yang terkait dengan benda maupun manusia. Seluruh permohonan maupun rasa syukur di tujukan terhadap Allah atas nikmat yang udah di berikan.

Tradisi Meugang

Tradisi Meugang atau di kenal dengan nama Makmeugang merupakan rutinitas menyembelih hewan kurban yang berupa sapi atau kambing dan di jalankan tiap tiap tiga th. sekali yakni terhadap bulan Ramadhan, Idul Fitri serta Idul Adha. Daging hewan yang udah di sembelih tersebut, oleh penduduk Aceh lantas di masak dan di nikmati dengan dengan kerabat, keluarga dan di bagikan beberapa terhadap yatim piatu.

Biasanya, hewan kurban yang di sembelih baik itu sapi atau kambing sanggup berjumlah hingga ratusan. Selain sapi dan kambing, penduduk Aceh juga menyembelih ayam serta bebek. Masyarakat Aceh biasanya bakal memasak daging hewan tersebut di rumah, lantas di bawa ke masjid agar sanggup di makan dengan dengan tetangga dan warga yang lainnya.

READ  Clean Eating, Inilah Panduan Lengkap Melakukannya

Tradisi Meugang atau Makmeugang di desa, biasanya di jalankan sehari sebelum saat hari raya Idul Fitri. Sedangkan di kota, rutinitas ini biasanya di jalankan dua hari sebelum saat perayaan hari raya Idul Fitri.

Menurut sejarahnya, rutinitas Meugang ini udah di jalankan sejak ratusan th. yang selanjutnya sejak jaman Kerajaan Aceh. Pada jaman itu, pada th. 1607 hingga 1636 M, Sultan Iskandar Muda memotong hewan dengan jumlah yang banyak, lantas daging berasal dari hewan tersebut di bagikan secara gratis terhadap seluruh rakyatnya.

Hal ini di jalankan oleh Sultan Iskandar Muda sebagai wujud rasa syukur atas kemakmuran yang di terima rakyatnya. dan sebagai rasa terimakasih terhadap seluruh rakyatnya.

Akan tetapi sehabis Kerajaan Aceh di taklukan oleh Belanda terhadap lebih kurang th. 1873, rutinitas Meugang ini udah tidak lagi di jalankan oleh raja. Namun, gara-gara rutinitas Meugang udah mengakar lumayan kuat dalam kehidupan penduduk di kota Aceh, rutinitas Meugang selamanya teratur di jalankan hingga pas ini dalam keadaan apapun.

Pada tiap tiap perayaan Meugang, seluruh keluarga bakal memasak daging untuk dimakan oleh seisi rumah. Tradisi Meugang mempunyai nilai religius, gara-gara di jalankan hanya terhadap hari-hari suci bagi umat Islam. Bagi penduduk Aceh, segala wujud rezeki yang mereka menerima dalam satu th. patut di syukuri serta di rayakan dalam wujud perayaan Meugang ini.

READ  Alasan Kenapa Kamu Perlu Merangkul Kompetitor dalam Berbisnis

Kenduri Beureuat

Kenduri Beureuat merupakan suatu rutinitas yang di miliki oleh penduduk Aceh yang biasa di jalankan terhadap nisfu Sya’ban atau terhadap 15 Sya’ban. Bulan Sya’ban adalah bulan kedelapan berasal dari penanggalan Hijriah yang udah jadi acuan utama berasal dari penanggalan Alamanak Aceh. Pada Alamanak Aceh, bulan Sya’ban di kenal dengan arti bulan Khanduri Bu.

Biasanya Kenduri Beureuat ini di jalankan di masjid, musholla, meunasah maupun tempat-tempat. biasa di adakan pengajian di malam hari usai laksanakan sholat Maghrib maupun Isya. Kenduri di adakan oleh penduduk untuk nikmati peristiwa pertengahan bulan Sya’ban berbarengan dan nikmati masa-masa bulan Ramadhan.

Istilah beureuat sendiri berasal berasal dari bhs Aceh berasal dari kata beureukat yang bermakna adalah berkah. Dari kata tersebut, maka rutinitas ini memang di adakan untuk memohon berkah terhadap Allah SWT.

Seluruh penduduk Aceh bakal datang ke tempat rutinitas Beureuat di adakan, layaknya ke meunasah untuk meramaikan kenduri. Akan tetapi, warga yang datang tidak mempunyai tangan kosong. Mereka bakal mempunyai idang yakni, sebuah paket makanan yang berisi nasi dengan lauk pauk yang di taruh terhadap sebuah talam yang lumayan besar. Makanan dalam idang tersebut, nantinya bakal di nikmati dengan dengan seluruh warga yang hadir untuk meramaikan kenduri.

Hingga kini, rutinitas Kenduri Beureuat masih di langsungkan di beberapa tempat di Aceh dengan tujuan memuliakan bulan Sya’ban yang jadi salah satu bulan istimewa menurut penanggalan Hijriyah.